Nama : Fuad Hanafi
NIM : A310200060
UTS Mata Kuliah Bahasa Jurnalistik
Momentum Kebahagiaan di Idul Fitri 1444 H
Idul Fitri adalah hari raya yang membanggakan bagi umat islam di seluruh penjuru dunia. Hari raya ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali yang bertepatan dengan satu bulan syawal setelah umat islam melaksanakan puasa di bulan Ramadan selama satu bulan penuh. Umat islam biasanya memanfaatkan situasi di Idul Fitri ini untuk saling bertemu dengan sanak saudara dan juga kerabat jauh dengan saling memaafkan dan bersenang-senang.
Pada hari Sabtu, 22 April 2023, kegiatan Idul Fitri ini berlangsung dengan penuh ceria dan kebahagiaan. Hal ini saya rasakan di Desa Balak Wetan RT 08, Kelurahan Tegaldowo, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen. Pada saat berlangsungnya hari lebaran yang dimulai dengan salat Idul Fitri dan dibarengi dengan iring-iringan kumandang takbir yang sangat terdengar lantang dan terkesan menggembirakan sebagai pertanda bahwa hari kemenangan telah tiba.
Kegiatan setelah melaksanakan salat Idul Fitri di Masjid Jami’ Balak, saya beserta keluarga bersiap-siap untuk pergi ke rumah kakek dan nenek untuk memulai makan lontong sayur bersama-sama. Dalam hal ini saya menemukan banyak hal yang penuh keharnonisan mulai dari banyaknya kerabat dari jauh yang datang untuk bersilaturahmi dan juga melaksanakan sungkeman yang artinya saling memaafkan. Momentum ini rutin dilaksanakan di hari yang bertepatan dengan Idul Fitri di setiap tahunnya, karena termasuk hal yang wajib dilakukan untuk saling memaafkan di hari lebaran.
“Aku dewe ngeroso seneng ngger, riyaya tahun iki biso ketemu anak, putu, karo sedulur-sedulur adoh sik sakdurunge jarang ketemu merga Covid-19,” ucap kakek pada saat mengobrol dengan saya (22/04/2023)
Kemudian setelah itu kulihat dari para saudara dan beberapa kerabat saya yang melakukan sungkeman kepada orang yang lebih tua darinya. Tradisi sungkeman ini dilaksanakan secara baik dan sopan dengan tuturan yang lembut menggunakan bahasa Jawa krama alus yang menandakan bahwa perbuatan yang dilakukan oleh orang yang lebih muda mempunyai banyak salah terhadap orang yang lebih tua darinya, seperti permintaan maaf dari anak kepada kedua orang tuanya.
"Ngaturaken sembah pangabekti kawula nggih pak buk. Sepinten kalepatan kula, lampah kula setindak, paben kula sakecap ingkang mboten angsal idining sarak, kula nyuwun pangapunten mugi lineburo ing dinten riyoyo puniko," ucap bapak saya kepada kakek dan nenek pada saat Idul Fitri 1444 H (22/04/2023)
Setelah berlangsungnya tradisi sungkeman yang dilakukan oleh semua anggota di keluarga saya pada hari tersebut, kegiatan lainnya saya dan keluarga melanjutkan dengan berkeliling ke rumah-rumah ke kerabat dekat dengan saling memaafkan dan membawa sedikit bawaan gula dan teh sebagai bentuk hantaran di saat hari lebaran. Dalam hal ini saya mendapatkan banyak pengalaman yang erat kaitannya tentang silaturahmi dan pentingnya menyambung tali persaudaraan. Selain hal itu, saya juga diajarkan oleh kedua orang tua saya untuk senantiasa menyambung tali silaturahmi walaupun jika dilihat dari segi silsilah keturunan terlampaui jauh, namun harus senantiasa terjalin.
Lebaran menjadikan momen yang sangat gembira dan menyenangkan bagi kebanyakan umat Islam, karena dengan lebaranlah kita semua bisa bertemu dengan keluarga dan kerabat jauh dalam satu waktu secara bersamaan. Hal ini menjadikan kita semua sebagai umat islam mengucap banyak rasa syukur dengan banyak kalimat tahmid karena masih dipertemukan waktu yang mungkin hanya dilakukan satu tahun sekali. Melalui lebaran inilah kita dapat menjadi pribadi yang harus lebih baik, dikarenakan sebelumnya bulan Ramadan yang penuh pahala dan ampunan telah meninggalkan kita. Semoga kita masih senantiasa dipertemukan dengan hari lebaran dan bulan Ramadan di tahun-tahun berikutnya. Aamiinn.
Komentar
Posting Komentar